Semua Orang Beda



Di tengah kota, di sudut jalan, di bawah lampu yang bersinar terang. Dua sahabat sedang duduk bercengkrama menikmati lalu lalang transportasi jalan yang terkadang gak ada akhlak dalam membunyikan klaksonnya. Panggil saja namanya TATA (perempuan) dan KRAMA (laki-laki). 

Kedua remaja ini telah menjalin persahabatan kurang lebih selama tiga tahun. Memang terbilang cukup baru, namun mereka sudah seperti lebah dan bunga yang saling melengkapi.

Katanya, hubungan dua orang sahabat laki-laki dan perempuan tidak mungkin tanpa adanya perasaan. Namun diakui keduanya, mereka saling sayang. Namun, sayang sebagai sahabat. Karena satu sama lain, sedang berjuang pada suatu hati yang dijaga. Yaa begitulah...

Tata : Ram, aku kesel...
Krama : Kesel lapo?
Tata : Aku jogo ati, tapi arek e ngilang terus
Krama : Santai cil, sikap koyok ngunu bukan berarti arep ngeghosting seh
Tata : Tapi ram, aku wes setahun lueh kenal tapi gak dikek i kepastian, rasane koyok madu basi rasane kecut lan pait

Manusia ada kalanya gundah gulana memikirkan sebuah perasaan. Apalagi perasaan yang tidak terbalaskan. Duh elahh ribet kalau dipikir-pikir .

Tata : Opo sih jane untunge ghosting, nglarani ati, padahal lek jarene satu tetes air mata wanita sama dengan seratus cambukan bagi para lelaki yang sudah menyakitinya
Krama : Iyo si, tapi yo lanange sing bener-bener ga berakhlak
Tata : Opo terus untunge ghosting?
Krama : Ngene cil, menungso iku gak lanang gak wedok dek e due dunia masing-masing. Yang mungkin hanya dia dan tuhan yang bisa memasukinya, kan adewe yo gak ngerti
Tata : Bener juga sih
Krama : Nah makane cil, sabar. Lek jare sing lagi viral saiki, adewe kudu memantaskan digae seseorang yang memang pantas untuk kita
Tata : Kok awakmu maleh pinter sih
Krama : Yo jelas, saiki delokanku tiktok, update terus
Tata : Wo ngawur, bukumu sak abrek ndanh diwoconi maneh kono
Krama : Jelas lah, lek ilmu iku bisa datang dari mana saja kan cil
Tata : Iyo ram!! (tegas Tata sembari memainkan rambut Krama yang mulai memanjang akibat terlalu lama dirumah aja)

Meski suasana hati Tata sedang tidak menentu saat itu, sebagai sahabat Krama selalu berusaha mencoba untuk menghiburnya. Mulai dari menunjukkan video lucu hingga menari-nari bagai orang gila dengan memperagakan gerakan tiktok yang sedang mendunia.

Bosan dengan topik hati, akhirnya mereka beralih topik dengan mengacu perbincangan terkait permasalahan yang sedang menghantam dunia. Mulai dari kesehatan, politik, sosial, bahkan budaya.

Keduanya memiliki pikiran terbuka, sehingga selalu merasa nyambung ketika berbicara. Tak jarang, mereka rela berteriak hanya untuk menguatkan pendapatnya masing-masing. Namun, malam itu terkesan mereka hanya ingin menghujat sesuatu yang terjadi namun mereka bingung dengan apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki.

Krama : Cil, aku mangkel cak ambek berita-berita sing lagi booming nek twitter. Mosok iyo, enek sing bahas kampus e awake dewe
Tata : Lo iyo, bener anjir. Aku mau moco sing tentang kekerasan seksual. Masio dalam bentuk verbal, iku iso mempengaruhi psikologis anak cui
Krama : La hooh, aku yo wes moco masalah iku. Ngeri cak, sing kudune mental excellent malah dadi mental penjahat
Tata : Aku gak bayangne dadi dek e ram. Iso-iso paling aku wes emoh kuliah dan bingung menata hidup
Krama : Nah bener, paling aku sisan yo ngunu. Saiki lo menungso iku gak iso milih atene dikek i model fisik sing koyok piye kambek gusti Allah. La iku malah diilok2no
Tata : Tenang ram, dek e wi mengatas namakan kuasa sih. Dadi sombonge gede, dan berlagak semena-mena. Opo maneh dalam hal menghujat fisik dengan kata-kata yang tidak pantas. Poh, kenek azab lagek tau rasa wi bocah
Krama : Layo, terus jarene korban e dek e gak mek siji cur
Tata : Iyo, sampek bingung aku. Opo jane motivasine dek e koyok ngunu. Opo gak mikir ngunulo kambek dampak e nek korban-korban e
Krama : Gaklah, paling utek e wes gak iso digae mikir sing apik-apik. Isine paling mek barang kotor tok
Tata : Astaghfirullah, nyebuttt gaoleh ngomong ngunu. Belum tentu adewe lueh apik soko dek e kan. Wes didongakne ae muga-muga sing kae-kae dek e khilaf, dan iso berubah dadi pribadi sing lueh apik
Krama : Aamiin cil, gemes aku kambek wong-wong sing melakukan kekerasan seksual nek bocah2 terutama anak kecil. Pehhh jann
Tata : Sabar ram, mungkin dulunya mereka ada masalah apa kita juga gatau, makane mereka sekarang melakukan hal-hal senonoh kaya gitu. Sing penting adewe iso jaga diri ae soko wong-wong koyok ngunh
Krama : Bener, lek enek opo-opo ojo lali crito nek aku. Awas ae sampek enek uwong sing macem-macem nek awamu. Arek-arek sak jurusan tak kon nonyoni wonge o. 
Tata : Ahahahaha gausah sok jagoan. Wes wes ayo muleh wes bengi

Masih geram dengan pembahasan kekerasan seksual yang menimpa beberapa orang tak bersalah di Indonesia. Kedua sahabat itu tetap memutuskan untuk pulang.

Bulan telah cantik memancarkan sinarnya tepat di atas mereka. Jalanan semakin sepi dengan sayup angin yang semakn dingin mencekik tubuh. Beberapa bangunan sudah ada yang mati dikarenakan penghuninya telah lelap bersama mimpi.

Di atas motor, bersama senandung lagu nadin mereka menikmati malam berdua sebagai seorang sahabat yang tak ingin dipisahlan walau rintangan selalu menghalau didepan. Persahabatan keduanya semakin terkenang dalam malam itu.

Sampailah didepan kos Tata, Krama pun melambaikan tangan dan semakin menjauh untuk pulang. Sesampainya ia di rumah, ia tak lupa mengabari sahabatnya yang tengah khawatir menunggu kabar sudah sampai atau belum pada sahabatnya itu.

Disatu sisi, Tata tidak berhenti berpikir. Bahwa manusia itu memang bermacam-macam sifatnya. Ada yang baik dan ada yang buruk. Karakternya juga beda-beda, ada yang dingin dan juga yang humble hingga tidak punya malu. Ya begitulah, itu semua telah digariskan oleh Tuhan.


"Setiap manusia itu beda, jadi jangan sekali-kali kamu menyamakan. Membandingkan boleh, namun jangan keterlaluan"

"Semua orang juga lelah, kita sama-sama lelah ketika dituntut untuk memahami satu sama lain. Jadi, berjuang sama-sama yuk..."

Komentar