Next Sound of MAYDAY 2nd
Buruh Bukan untuk Diberantas Tetapi untuk Dididik
Indonesia semakin krisis moral dan pengetahuan. Banyak
hal kecil menimb ulkan perpecahan. Itu semua karena kurangnya kesadaran.
Kesadaran masyarakat dan pemerintahan. Kita tahu dan kita setuju, pemerintah
bekerja keras untuk memajukan dan memberi nama baik untuk negara Indonesia.
Berjuang untuk memajukan suatu negara, dan bermimpi serta memperjuangkan
perubahan status berkembang menjadi maju, bukan hanya lingkup Asia Tenggara
melainkan se-Dunia.
Indonesia semakin krisis moral dan pengetahuan. Banyak
hal kecil menimbulkan perpecahan. Itu semua karena kurangnya kesadaran.
Kesadaran masyarakat dan pemerintahan. Demo dimana-mana, tak kenal tempat dan siapa saja yang terlibat.
Kenal waktu tapi tak pedulikan waktu orang lain yang tak punya masalah dan
keterlibatan. Pernahkah kita berfikir, Apa yang membuat Indonesia seperti ini?
Kenapa mereka melakukan semua ini? Siapa yang memprakarsai hal-hal seperti ini?
dan Bagaimana seharusnya kepedulian kita terhadap Indonesia?.
Awalan yang saya ulangi dan menurut saya awalan ini patut
untuk membuka pikiran masyarakat tanpa melihat jenjang, menuntutnya untuk
perpikir kritis tanpa saling menjatuhkan. Seperti pertanyaan post sebelumnya
disini nanti kita akan membahas dan mengulas semua hasil diskusi saya dengan
teman-teman saya di sosial media. Nah gimana si kondisi Buruh sekarang ini di
Indonesia menurut Netizen? apa hasil diskusi kami dengan sosial media? Dan
bagaimana sebaiknya Buruh di Indonesia?. Sebelumnya saya melakukan diskusi
online dengan beberapa teman saya, melalui reply snapgram yang saya buat dan
melalui line dengan menimpahkan beberapa pertanyaan kepada mereka. Kuy mari
kita ulas pembahasannya.
Buruh di Indonesia ditelantarkan, tidak diayomi, bahkan
pemerintah lebih berpihak ke TKA (Tenaga Kerja Asing). Bener ga sih? Nah
berkedok dari “peningkatan investasi dan perbaikan ekonomi nasional” pemerintah
mempermudah TKA masuk ke Indonesia dengan peraturan presiden baru, Presiden
Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang
Penggunaan Tenaga Kerja Asing. Kita lihat dari dua sisi, dari semua itu pasti
ada yang memberikan pembelaan bahwa TKA yang dipekerjakan pasti yang
berkualitas, dalam artian pastinya pemerintah tidak merekrut buruh. Nah sekarang
ini jika dipikir-pikir, perusahaan merekrut TKA pastinya ingin goals nya
tercapai dengan efektif dan efisien kan. TKA sekalipun itu tenaga ahli, punya
kondisi latar belakang kondisi ekonomi negara yang berbeda antara di Indonesia
dan di negaranya. Jika di negaranya sudah tidak lagi pikir gimana caranya
rakyat bisa punya pekerjaan supaya punya pemasukan, sehingga yang ada
dipikirannya hanyalah “bagaimana perusahaan ini bisa mencapai goals dengan
seefektif dan seefisien mungkin” dengan tidak memikirkan faktor eksternal
perusahaan, yakni keberadaan buruh-buruh yang menjadi sasarannya untuk
direduksi. Nah hal ini cukup merugikan karena perusahaan hanya memikirkan
dirinya saja tanpa faktor eksternal perusahaan yang sebenarnya banyak dan semua
itu didekat mereka.
Nah terus lagi
tentang sistem outsourching yang sudah diperbaiki. Sebelum itu kalian yang awam
pasti bertanya apasih sistem outsourching itu? Bila merujuk pada undang-undang
No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Otsourching (Alih Daya) dikenal
sebagai penyediaan jasa tenaga kerja seperti yang diatur pada pasal 64, 65, dan
66. Dalam dunia Psikologi Industri, tercatat karyawan outsourching adalah
karyawan kontrak yang dipasok dari sebuah perusahaan penyedia jasa tenaga
outsourching. Awalnya, perusahaan outsourching menyediakan jenis pekerjaan yang
tidak berhubungan langsung dengan bisnis inti perusahaan dan tidak mempedulikan
jenjang karier. Seperti operator telepon, call
centre, petugas satpam, dan tenaga pembersih atau cleaning service. Namun saat ini, penggunaan outsourching semakin
meluas ke berbagai lini kegiatan perusahaan. Terdapat keuntungan dan kerugian
penggunaan sistem outsourching, tetapi aku ga bahas disini. Nah kembali pada
topik buruh, dengan menggunakan sistem outsourching ini menurut kami jadinya
membuat buruh-buruh istilahnya manis dihisap sepah dibuang karena dia cuman
dikontral. Dilihat dari dua sisi lagi, mungkin ada yang membela, “lho kan
dengan adanya jasa outsourching jadinya semakin banyak informasi dan kesempatan
kerja bagi calon buruh” Nah sekarang coba kita pikir, sekarang misal yang punya
pabrik itu asing, terus kerja sama dengan jasa outsourching lokal. Pabrik asing
buka di Indonesia ini sebenarnya alasannya apasih? Ya karena di sini banyak
sumber bahan bakunya. Lama-lama kalau mereka pakai terus, habis gak? Kalau
habis, langka gak? Kalau langka, jadi mahal gak?. Nah memang membuka peluang
kerja, tapi percuma saja, kebutuhan dasar mereka seakan-akan sudah “dibooking”
oleh pabrik-pabrik, sehingga buruh-buruh ini kian sulit mendapatkan
kesejahteraannya karena bahan-bahan pokok makin mahal pula, gak cukup dong
upahnya. Belum lagi kalau gajinya tidak dikasih tepat waktu. Karena beberapa
demo buruh di Indonesia karena satu akar permasalahan yang sama yaitu menuntut
gaji.
Terus apa dong
solusinya jika sudah seperti ini?
Nah, alangkah
baiknya pemerintah ini mendidik buruh-buruh untuk menjadi wirausaha saja,
kenapa? Karena dengan itu buruh-buruh tidak tergantung pada pabrik-pabrik yang
kebanyakan milik asing. Menurut kami, bisnis-bisnis anak-anak muda yang
sekarang lagi trend itu merupakan bentuk nyata perbaikan ekonomi. Bayangkan
saja, ketika buruh-buruh ini (yaa walaupun tidak semuanya), bisa punya ide-ide
cemerlang dan peluang kayak yang dimiliki pengusaha muda saat ini? Mungkin bisa
dikatakan peningkatan investasi dan perbaikan ekonomi skala nasional itu. At
least mereka bisa mencukupi kebutuhannya dulu, sandang, pangan, papan yang
baik. Tentunya harus “baik” yaa, supaya terjamin juga kesehatannya. Kesehatan
juga jadi parameter utama kesejahteraan seseorang selain tingkat ekonomi
mereka. Setelah usahanya stabil, barulah sharing ilmunya, jalin kerjasama
dengan rekan0rekan yang baru memulai usahanya, jadi Gotong-royongpun bisa
diterapkan. Nah kalau melihat sekitar nih, bisnis yang digawangi anak muda
disektor industri kreatif malah menghasilkan lapangan pekerjaan baru dimana ini
lebih nyata dan gak abal-abal.
NAH
BERKEMBANGLAH UNTUK INDONESIA EMAS, JANGAN HANYA BERSUARA TAPI BERTINDAKLAH,
TINDAKAN BUKAN ANCAMAN TAPI DUKUNGAN.
Nah ini juga ada beberapa pedapat dari guru besar
yang kami kutip,
Oke semoga bermanfaat
dan sampai jumpa di pembahasan selanjutnya.
Thank you sudah stay
dan membaca sampai habis, semoga ilmu baru yang didapatkan bermanfaat bagi
kalian semua, bye salam 4k J J J



Komentar
Posting Komentar